Beranjak dari ruang benderang, lalui waktu tanpa batas, meski bersekat...
Merobohkan tanpa menjatuhkan...
Memuliakan tanpa memuji...

18 May 2009

Binatang, hewan atau satwa Vs Manusia

Photobucket
Binatang, hewan atau satwa merupakan jenis kata yang sama, menggambarkan arti yang sama, namun memiliki makna yang berbeda. Secara garis besar ketiga kata tersebut berarti, organisme multiseluler, eukariotik yang berasal dari kerajaan/ Kingdom Animalia.

Manusia adalah bagian dari Kingdom tersebut. Manusia berasal dari kerajaan yang sama dalam struktur klasifikasi, yaitu Animalia. Namun jelas manusia tidak akan mau di katakan sebagai binatang, hewan atau satwa. Mengapa demikian?

Pertama, Manusia merasa mempunyai pikir yang bersarang di otak. Pola pikir yang menempatkan titik ruang manusia berada lebih tinggi daripada binatang, hewan maupun satwa.

Kedua, Manusia merasa memiliki mulut yang bisa berbicara, sedangkan binatang tidak meiliki suara komunikasi dengan manusia secara verbal. Suara yang dikeluarkan melalui mulut manusia tersebut, menempatkan manusia pada posisi yang berbeda. Keduanya memaang sama dalam mengeluarkan suara, namun suara yang di keluarkan antara binatang dan manusia jelas berbeda menurut manusia.

Ketiga, Manusia merasa sebagai pencipta. Pencipta dalam artian, bahwa manusia bisa membuat sebuah peradaban yang jauh lebih hebat dari peradaban yang dibuat oleh binatang. Manusia menciptakan peradaban dengan bangunan-bangunan yang menggeser nilai alamiah sang pencipta. Sebagai contohnya, hadirnya gedung-gedung yang menjulang, dengan mengikis hutan sebagai rumah bagi binatang.

Binatang, hewan maupun satwa merupakan gambaran yang jelas mengenai sifat dan watak dari manusia. Manusia seringkali bertingkah seperti binatang, sedangkan binatang dipaksa untuk bertingkah seperti manusia.

Binatang
Binatang berbeda dengan hewan atau satwa dalam kacamata manusia. Pribahasa kata-kata yang nampak selalu menghadirkan makna binatang lebih rendah jika dibandingkan dengan hewan atau satwa. Binatang jalang, contohnya.

Hewan
Hewan nilainya terkesan ilmiah. Kata-kata hewan banyak digunakan dalam bahasa pengetahuan, namun juga nilainya tidak lebih tinggi daripada satwa.

Satwa
Bahasa satwa biasanya digunakan oleh aktifis satwa. Aktifis pecinta lingkungan. Aktifis yang banyak menyuarakan tentang penyelamatan satwa. Mereka memandang bahasa satwa lebih halus daripada menggunakan bahasa hewan atau binatang.

16 May 2009

Takkan berhenti bernafas

Meski tiada aktifitas lagi, tanpa ada pena, tidak ada lagi ada tatap muka. Semua menjadi kebebasan yang abstrak, kebebasan yang terbangun untuk menuju sebuah cita dan harapan.

Sesering kita membuka lembaran demi lembaran, dengan melibas ruang diskusi yang sudah terbangun. Niscaya tanpa arti lagi. Pencapaian yang sempurna tidak berasal dari hari yang keras dan sibuk. Namun pencapaian akan terasa indah, tatkala ruang-ruang menjadi dinamis.

Mencari kebodohan sendiri, dengan meninggalkan masa yang pernah terjadi. Sedikit meluangkan waktu melalui refleksi masa lampau. Mencoba menuju dimensi baru, harapan baru, dan tantangan yang lebih membuat kita selalu berpikir.

Sesering apakah kita bernafas. Disitulah akan terjadi sebuah kepalsuan waktu, yang terangkum oleh detak tanpa makna. Bernafas memiliki simbol kehidupan. Bagi manusia, bernafas merupakan keseimbangan otak yang terlupakan. Setiap kali kita menghirup oksigen, tanpa mau mengerti apa yang kita hirup benar-benar oksigen. Sebenarnya manusia hanya menghirup kebodohannya. Kebodohan yang berasal dari sel-sel angkuh dan rasisme.

Terasa benar, merasa benar, namun tidak bisa dibenarkan, itulah manusia. Refleksi dan mulai memahami entitas dengan segala ketidakmampuan merupakan jawaban dari pernafasan. Mulailah menghirup, coba bernafas seindah mungkin diselingi dengan selalu belajar tanpa meninggalkan makna masa lalu.

14 May 2009

Biologi UIN Malang

Menengok kembali rana diskusi dalam penelitian berkelanjutan. Kala mahasiswa dikampus belajar di luar koridornya. Melangkah keluar dan mulai menunjukkan tajinya sebagai pengembara pendidikan.

Di kampus yang dahulunya penuh dengan pepohonan, kini hanya berisi gedung-gedung karya arsitektur. Tanpa ada lagi ruang diskusi, kesombongan akan keagungan. Tidak disertai lagi warna-warni penelitian bagi mahasiswa. Semua terbaring dalam gedung berharga milyaran.

Beda jika dibandingkan dengan kaum miskin pada masa lampau. Miskin, namun kaya akan hijau. Kaya akan esensi, dengan pergerakan mengentaskan kebodohan.

Hutan keberagaman kini tinggal kenangan. Semua sudah bersatu dalam ruang putih, tanpa pernah tersentuh arti ketidaktahuan. Penelitian sejatinya bagian dari tujuan sebuah perguruan tinggi, pengabdian adalah roh bagi perjuangan dan masyarakat selalu merindukan karya sang anak perguruan tinggi.